post

Pernah tidak sich kamu alami peristiwa seperti pada atas? Awalannya kamu baik saja. Kalaulah berduka dan pengin menangis, bisa ditahan-tahan. Kamu juga berlaku cerah seakan tidak ada yang lagi mengusikmu. Hingga kemudian seorang menanyakan: “Kamu baik saja?”. Lalu, semua pertahananmu luruh. Kamu juga seperti Didi Kempot yang tidak dapat meredam sakitnya ditinggal, ambyar.

Kadang bingung mengapa kamu langsung bisa ambyar saat seorang menanyakan “Kamu tidak apa-apa?” atau “Kamu baik saja?”. Walau sebenarnya awalnya kamu berasa baik saja. Mungkin kemungkinan-kemungkinan ini dapat menjawab, mengapa hati berasa ambyar dan tangis kerap pecah saat ditanyakan apa kamu baik saja.

Seperti seseorang, kamu hadapi hari yang berat. Permasalahan yang bertumpukan, dan kemungkinan fisik merasa overwhelmed. Tetapi kamu selalu berasa itu bukanlah hal yang besar. Tidak apa-apa kok, nanti usai sendiri, demikian katamu dalam hati. Tetapi, pertanyaan “kamu baik saja?” itu ibarat sebuah pukulan untukmu memeriksa apa yang sesungguhnya terjadi. Lantas, ambyar itu berasa saat kamu mendapati bukti jika rupanya kamu memang tidak baik saja.

Sesungguhnya kamu paham.kamu mengerti jika kamu sedang tidak baik saja. Tetapi hidup lagi berjalan bagaimana juga hatimu sekarang ini. Sebab tidak pengin memberatkan seseorang, lalu kamu juga bersandiwara segala hal prima dan kamu baik saja. Tetapi, saat seorang menanyakan bagaimana kabarmu ini hari, kamu tidak dapat bohong kembali. Kamu tidak berhasil sembunyikan bukti jika kamu memang tidak baik saja. Tidak apa-apa kok, sebab kamu tidak harus baik saja sejauh waktu.

Permasalahan yang demikian berat, membuat moodmu amburadul dan emosimu kurang konstan. Saat seorang menanyakan “Kamu tidak apa-apa?”, kamu menganggap sebagai penegasan jika gesturmu sedang murung durja. Kamu menganggap sebagai sebuah tuntutan jika kamu harus tersenyum, ketawa, dan bergurau sejauh waktu. Kemurunganmu dipandang sebuah permasalahan, dan karena itu kamu berasa benar-benar capek. Kamu juga kecewa, sebab, memangnya kamu harus tersenyum dan ramah lagi tiap hari?

Sejauh ini kamu selalu simpan semua sendiri. Kecuali kamu malas memberati seseorang dengan bebanmu, kamu berasa tidak bakal ada yang perduli. Karena itu kamu selalu bersandiwara baik saja, walau dalam hatimu amburadul. Tetapi, saat seorang memperlihatkan kepeduliaannya dengan menanyakan “kamu baik saja?”, pertahanan diri kamu roboh. Apa yang kamu tahan-tahan sejauh ini juga pada akhirnya luruh. Kamu berasa dipahami, dan entahlah kenapa, itu membuat kesedihanmu malah tidak tertahan kembali.