post

Masa lalu kocak dan manis di periode sekolah memang tidak ada habis-habisnya jika dibahas. Diantaranya yang terbanyak dikenang ialah saat dahulu kita mempunyai beberapa barang baru, dimulai dari seragam, tas sekolah, tempat minum, sepatu, sampai bermacam jenis barang yang lain yang selalu dibawa saat kita pergi sekolah. Tidak hanya anak SD saja, bahkan juga saat kita duduk di kursi SMP atau SMA juga tidak terlepas menjadi perhatian rekan-rekan yang lain bila punyai barang baru.

Apa lagi jika barang itu dipandang mahal, tidak seluruh orang dapat membeli, dan tentu digunakan setiap hari. Sudah terang kita akan tidak dapat rasakan hari-hari yang tenang minimal dalam kurun waktu satu minggu pertama saat memakai barang itu. Bukanlah gimana-gimana, tetapi jika waktu itu kita bawa barang baru ke sekolah, selalu saja terasa jadi target banyak bocah yang lain, ditambah beberapa anak satu kelas.

Memperoleh barang baru di periode sekolah dapat disebut adalah kebangaan tertentu yang pantas untuk minimal iseng ditampilkan. Masalahnya untuk memperoleh beberapa hal itu, dahulu kita harus melalui beberapa ujian lebih dulu dari orangtua kita. Seperti misalkan harus peroleh nilai bagus saat ulangan harian, harus juara tiga besar saat di kelas, harus dapat belajar nabung, sampai harus nurut sama ke-2 orangtua saat kita diminta tidak bisa mengulang kekeliruan-kesalahan yang terjadi awalnya. Kemungkinan, saat membaca. Iini kamu berasumsi jika hal itu biasa saja, tetapi kenyataannya dahulu kita tidak gampang untuk lakukan hal itu lo. Dari yang umumnya males-malesan jadi rajin, atau yang umumnya selalu ngeyel jadi nurut lagi sama emak dan bapak.

Dibalik rasa senang dan berbahagia sebab punyai bermacam jenis beberapa barang baru yang tidak. Dipunyai oleh rekan yang lain, ada beberapa hal yang kadang membuat kesal. Persoal ini kemungkinan ialah diantaranya. Ingat tidak sich, jika dahulu kita punyai barang baru tentu selalu dijahilin sama teman yang lain. Itu belum juga apa-apa, kadang kita dipandang anak orang kaya sekalian. Disikapin dengan sikap sinis, dan jika anak orang kaya di mata beberapa. Anak sekolahan waktu itu imagenya selalu saja nampak sebagai bocah yang manja dan gengsi-gengsian. Kesal sekali, kan? Iri ngomong dong, bosss! Walau sebenarnya kita tidak ngapa-ngapain, berlagu juga tidak 🙁